꧓
Masih terlalu jauh dari pratuntas, langkah yang tak terlalu cepat namun terus bergerak, hanya dengan dibekali semua yang ada pada otak dan jantung, pendongkrak dasar akan semuanya. Akan segera terbagi lelahnya dengan apa yang sudah te(rekam), (rekap) satu persatu inti, mari men(dekap)lah.Sudah berjalan sejauh mana?, berapa kali terjebak dalam kabut?, takut lagi, sakit lagi, senang lagi.
Sungguh banyak yang masih bersih, putih, begitu polos tanpa sedikitpun noda. Mungkin itu jawaban yang sudah tertuju untuk sebuah tempat pengungkapan lelah, atau lahan yang amat sangat luas untuk ide dan gagasan. Mulailah tuangkan, lagipula sebab akibat sudah menyatu dalam porsi. Nikmatilah.
Dengan sadar merangkul api, resah yang semakin menggila, mencatat dengan taat sebuah gagal, lalu mulai terbiasa. Keseimbangan yang berbentuk dusta ini menjadi akar yang memperkuat untuk sebuah pencapaian dari segala keresahan. Janganlah bosan, mari kumpulkan, ringkaslah, dan susun lebih terstruktur resah yang menjadikan sebuah langkah menuju tuju begitu berarti, belum ada yang terlambat. Karena, semoga bukan kehilangan yang menyadarkan bahwa pernah berpihaknya keberuntungan.
Begitu nyaman sebuah peluk, hingga ketergantungan mengambil alih segalanya, wajar saja. Semakin erat saja ketika kacau semakin menjadi. Jika seperti itu membuat lebih tenang, jangan sampai lepas. Setiap keputusan pasti tak jauh dari senang dan sesal, rayakanlah, cari kembali dekap tersebut. Mari, hingga waktu akan temukan genap sebuah arti.
Sudah berjalan sejauh mana?, berapa kali terjebak dalam kabut?, takut lagi, sakit lagi, senang lagi.
Ciptakan setiap bekas atau kesan, tuang dengan berani rekapitulasi terfokus dalam ikhtisar, lalu buatlah melekat, rapat, terpeluk dengan erat.
Komentar
Posting Komentar